
Bagi sebagian orang, hujan adalah waktu untuk beristirahat, menikmati udara dingin, dan menenangkan pikiran. Namun di Asrama Pesmadai, hujan justru menjadi pengingat tentang keteguhan dan semangat para santri.

Bagi mereka, hujan berarti berpacu dengan keadaan. Mereka harus segera mengamankan barang-barang, buku, kasur, dan mushaf Al-Qur’an dari tetesan air yang menetes melalui atap bocor. Asrama ini mungkin tak megah, tapi di sinilah mereka menanam hafalan ayat demi ayat, membangun cita-cita, dan menyiapkan diri menjadi penjaga Al-Qur’an.
Sudah berbulan-bulan kondisi ini berlangsung. Rangka atap dan plafon kayu mulai rapuh dimakan usia dan rayap. Setiap kali hujan, air mengalir deras dari celah-celah dan membasahi seluruh ruangan. Bau lembap dari dinding yang basah membuat udara pengap, sementara beberapa barang mulai rusak dan berjamur.



Jika dibiarkan, kondisi ini tak hanya merusak bangunan, tapi juga bisa mengganggu kesehatan dan konsentrasi para santri. Mereka jadi kurang istirahat dan sulit belajar dengan tenang.
Meski dalam keadaan seperti itu, mereka tetap melanjutkan hafalan. Mereka tetap mengulang ayat demi ayat, bahkan saat harus memindahkan kitab agar tidak basah. Tak ada keluhan, tak ada putus asa. Bagi mereka, tempat ini bukan sekadar bangunan tapi saksi perjuangan menjaga kalam Allah.

Bisa jadi yang bagi kita hanya perbaikan kecil di atap tapi bagi mereka, itu adalah ruang tenang untuk kembali menghafal. Bisa jadi yang kita anggap sederhana menjadi sebab bertambahnya hafalan Qur’an, bertambahnya doa, dan bertambah pula pahala yang mengalir.

Mari jadikan rasa syukur kita atas rumah yang aman dan nyaman ini sebagai jalan kebaikan. Karena setiap tetes hujan yang tak lagi membasahi kitab dan kasur mereka, setiap lantunan ayat yang kembali mereka hafalkan di ruang yang kering dan hangat akan menjadi amal jariyah untukmu.
Bantu wujudkan tempat belajar yang layak bagi para penjaga Al-Qur’an.
Donasi Sekarang