
“Setiap tahun kami harus pindah, karena masa sewa atau pinjam rumah habis. Tahun ini, tempat yang kami tempati akan dijual.”
— Ustadz Muhammad, Pembina Pesmadai.
Sudah 10 tahun Pesantren Mahasiswa Dai (Pesmadai) berdiri menjadi wadah pembinaan bagi mahasiswa perantau yang ingin menuntut ilmu agama dan menjadi dai muda. Namun hingga kini, Pesmadai belum memiliki asrama mandiri. Setiap tahun, para santri harus berpindah dari satu kontrakan ke rumah lain karena kontrak habis atau tempat yang dipinjam harus dikembalikan.
Kini, kondisi semakin mendesak — rumah yang saat ini ditempati para santri akan dijual oleh pemiliknya. Artinya, jika tidak segera memiliki asrama sendiri, para santri terancam kehilangan tempat tinggal dan ruang belajar mereka.

Foto 1: Asrama Sementara yang Kini Terancam Dijual
Pesmadai bukan sekadar tempat tinggal, tapi rumah bagi mahasiswa perantau yang datang dari berbagai daerah untuk menuntut ilmu agama dan kuliah. Di sinilah mereka belajar, menghafal Al-Qur’an, dan memperjuangkan cita-cita menjadi dai yang bermanfaat bagi umat.
Setiap tahun, kampus/universitas di Ciputat seperti UIN Jakarta, UMJ, ITB Ahmad Dahlan, PTIQ dan Unpam menerima puluhan ribu mahasiswa, banyak mahasiswa yang datang dari pelosok daerah yang membutuhkan tempat tinggal yang baik, di dalamnya berisi pembinaan agar mahasiswa menjadi pribadi yang cerdas dan berakhlak Qur'ani.
Tanpa asrama tetap, kegiatan belajar-mengajar, tahfidz, dan pembinaan spiritual berjalan tidak stabil bahkan bisa saja program kebaikan ini terhenti. Setiap kali pindah tempat, para santri harus memulai lagi dari awal — menyesuaikan lingkungan, membongkar perlengkapan, hingga mencari tempat belajar baru.


Untuk menjawab tantangan besar ini, Pesmadai bertekad membangun Asrama Mandiri Santri Tahfidz. Langkah awalnya adalah pembebasan asrama seluas 1.300 m² yang berlokasi strategis di Jl. Ir. H. Juanda, Ciputat Timur, Tangerang Selatan (seberang ITB Ahmad Dahlan). Tanah ini akan menjadi pondasi bagi asrama permanen — tempat yang aman, nyaman, dan layak bagi para santri untuk belajar dan menghafal Al-Qur’an.
Nilai tanah yang akan dibebaskan mencapai Rp 7 Miliar, dan kami percaya, dengan dukungan umat, insya Allah cita-cita ini bisa terwujud.
Program ini bukan sekadar pembangunan fisik, tapi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi muda berakhlak Qur’ani.
Dengan berdonasi, Anda ikut menjadi bagian dari perjuangan membangun rumah bagi para penjaga Al-Qur’an.
“Barangsiapa membangun rumah karena Allah, maka Allah akan membangunkan untuknya rumah di surga.”
(HR. Bukhari dan Muslim)
Darusalam — ½ m² = Rp 1.250.000
Ma’wa — 1 m² = Rp 2.500.000
Na’im — 2 m² = Rp 5.000.000
Firdaus — 4 m² = Rp 10.000.000
Khuldi — sesuai kemampuan
Setiap rupiah yang Anda titipkan adalah langkah nyata agar para santri tak lagi berpindah-pindah dan bisa belajar dengan tenang.
Insya Allah, pahala mengalir deras setiap kali mereka membaca dan menghafal ayat-ayat Al-Qur’an di asrama yang Anda bantu wujudkan.
![]()
Menanti doa-doa orang baik